Mempertahankan Kemerdekaan



 Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan

Dibagi 2:

a.      - Perjuangan menggunakan senjata

 

1. Insiden Hotel Yamato di Surabaya

Aksi ini berlangsung pada malam hari, 19 September 1945 atau sehari setelah kedatangan pasukan Sekutu dan Belanda yang tergabung dalam aliansi (Allied Forces Netherlands East Indies). Mereka menempati Hotel Yamoto di Jalan Tanjungan No. 56 tanpa adanya izin dari karesidenan Surabaya, bahkan juga mengibarkan bendera Belanda.

 

Melihat kondisi tersebut, keesokan harinya warga Surabaya memenuhi Hotel Yamoto dan mengecam tindakan Belanda tersebut karena dinilai telah menghina kemerdekaan Indonesia. Mewakili Residen Surabaya, Sudirman bersama Sidik dan Hariyono memasuki Hotel Yamoto untuk meminta Ploegman (Pimpinan AFNEI) untuk menurunkan bendera. Namun, permintaan tersebut ditolak dan memicu perkelahian yang menyebabkan Ploegman dan Sidik Terbunuh, sedangkan Sudirman dan Hariyono berhasil meloloskan diri.

 

2. Pertempuran Lima Hari di Semarang

Pertempuran lima hari di Semarang ini berlangsung pada 15-20 Oktober 1945. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh larinya tentara Jepang yang akan dipindahkan dari Cepiring ke Bulu untuk selanjutnya bergabung bersama pasukan Jepang lainnya di Markas Kido Butai, Jatingaleh.

 

Selain itu, pertempuran ini juga dipicu oleh kematian dr. Karyadi yang berawal penyerangan Jepang ke reservoir Siranda pada tanggal 14 Oktober 1945. Dari penyerangan tersebut tersebar berita bahwa Jepang telah meracuni reservoir yang merupakan sumber mata air masyarakat Semarang.

 

Pertempuran lima hari ini berlangsung di pusat kota Semarang dengan diselingi usaha gencatan senjata oleh Jenderal Nakamura dan Kasman Singodimejo. Sampai akhirnya Sekutu datang ke Semarang pada untuk meminta gencatan senjata dalam konferensi di Hotel Pavilion pada 20 Oktober 1945.

 

3. Pertempuran Ambarawa di Magelang

Pertempuran di Ambarawa berlangsung sejak 12-15 Desember 1945 yang diawali tindakan Sekutu dan NICA (Nederlandsche Indische Civil Administration) yang mempersenjatai kembali tawanan perang. Di bawah pimpinan Kolonel Sudirman, TKR (Tentara Keamanan Rakyat) mengadakan koordinasi untuk melakukan pengepungan dan serangan serentak. Sampai akhirnya, pertempuran ini berakhir ketika TKR berhasil membuat Sekutu mundur dan lari hingga ke Semarang.

 

4. Pertempuran Medan Area

Pada 10 Desember 1945, Sekutu dan NICA melakukan serangan besar ke kota Medan yang pada saat itu dipertahankan oleh TKR Sumatra Timur di bawah pimpinan Achmad Tahir. Serangan tersebut mengakibatkan banyak korban berjatuhan sampai akhirnya di bulan April 1946, Sekutu berhasil menguasai Kota Medan dan mengusir Pemerintahan RI seperti Gubernur, TKR, dan Walikota untuk keluar dari Medan.

 

5. Bandung Lautan Api

Salah satu peristiwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan ialah Bandung Lautan Api. Sesuai namanya, pembakaran di Bandung ini dilakukan oleh penduduk dalam tujuan pengosongan kota dari pasukan AFNEI di bawah pimpinan Brigadir MacDonald pada 23 Maret 1946. Peristiwa Bandung Lautan Api dilatarbelakangi oleh beberapa tuntutan dan ketegangan saat pasukan AFNEI memasuki Bandung, yakni:

 

Sekutu menuntut penduduk Bandung menyerahkan semua senjata dari hasil pelucutan tentara Jepang.

Ultimatum Sekutu untuk mengosongkan Bandung Utara paling lambat tanggal 29 November 1945 dengan alasan keamanan rakyat.

Sekutu tanggal 23 Maret 1946 untuk mengosongkan Bandung Selatan

Pembakaran Bandung Lautan Api ini dipelopori oleh Kolonel A.H. Nasution yang bertujuan agar pasukan Sekutu tidak bisa menggunakan berbagai fasilitas, senjata, dan bangunan di Bandung sebagai bentuk pertahanannya.

 

6. Peristiwa Merah Putih di Manado

Dinamakan Peristiwa Merah Putih dikarenakan setelah sukses merebut tangsi militer Teling, para pemuda dan pejuang melakukan upacara bendera sebagai bentuk Indonesia telah merdeka dan siap menjaga dan mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa Merah Putih di Manado terjadi pada 14 Februari 1946 yang dilakukan oleh pemuda setempat dan pejuang KNIL dalam mengusir kekuasaan NICA di wilayah tersebut.

 

b.      - Diplomasi

 

1. Perjanjian Linggarjati 

Perjanjian ini dilaksanakan di Desa Linggarjati, perbatasan antara Cirebon dan Kuningan, pada tanggal 11 November 1946. Indonesia diwakili Sutan Syahrir, A.K. Gani, Susanto Tirtoprojo, dan Mohammad Roem. Pihak Belanda diwakuli Schermerhorn, dan penengah dari pihak Inggris diwakili Lord Killearn. Hasil dari perjanjian ini antara lain:

 

- Belanda mengakui secara de facto wilayah Jawa, Sumatra, dan Madura.

- RI dan Belanda membentuk Republik Indonesia Serikat (RIS).

- RI dan Belanda membentuk Uni Indonesia-Belanda, Ratu Belanda sebagai ketuanya.

 

 

2. Perundingan Renville

Pernah kebayang nggak ngadain perundingan di atas sebuah kapal perang? Nah, ini pernah dilakukan pada 8 Desember 1947 – 17 Januari 1948. Yaps, ada sebuah perundingan di atas kapal perang angkatan laut Amerika Serikat bernama USS Renville, maka dari itu perjanjian ini disebut dengan Perjanjian Renville. Saat itu Indonesia diwakili oleh Amir Sjarifuddin dan Belanda diwakili oleh Abdulkadir Widjojoatmodjo. Dihadiri pula Komisi Tiga Negara yang diwakili oleh Richard Kirby, Paul van Zeeland, Frank Graham. Ada pun hasil dari perundingan ini ialah:

 

- Penghentian tembak menembak

- Daerah-daerah di belakang Garis van Mook harus dikosongkan dari tentara Indonesia.

- Belanda bebas membentuk negara federal di daerah-daerah yang diduduki melalui jajak pendapat terlebih dahulu.

- Akan dibentuk uni Indonesia-Belanda.


3. Konferensi Meja Bundar (KMB) 

Kali ini ada sebuah perundingan yang dilakukan di Den Haag, Belanda pada 23 Agustus 1949 – 2 November 1949. Nama perundingan tersebut ialah Konferensi Meja Bunda. Iya, namanya meja bundar karena meja untuk konferensi memang membentuk sebuah bundaran. Pada saat itu Belanda diwakili Mr. Van Maarseveen, perwakilan Indonesia diwakili oleh Moh. Hatta, dan delegasi UNCI ialah Chritchley. Ada pun hasil dari Konferensi Meja Bundar  ialah:

 

- Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS).

 

- Masalah Irian Barat diselesaikan setahun kemudian.

 

- RIS harus membayar utang-utang Belanda sampai pengakuan kedaulatan.

 

- RIS mengembalikan hak milik Belanda seperti perusahaan-perusahaan Belanda.

Previous Post Next Post