Demokrasi Liberal
Demokrasi Liberal sendiri
merupakan sistem politik yang melindungi secara konstitusional hak-hak individu
dari kekuasaan pemerintah.
Berawal dari pengakuan
kedaulatan, bangsa Indonesia mulai mengadakan penataan kehidupan politik dan
ekonomi. Masa demokrasi liberal adalah masa dimana sistem parlementer Indonesia
masih mencontoh sistem parlementer barat yang dibentuk setelah dibubarkannya
Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tahun 1950.
Masa demokrasi liberal ini
ditandai dengan tumbuh suburnya partai politik dan berlakunya kabinet
parlementer. Dimana, pada masa itu Indonesia sebagai “negara baru” harus banyak
belajar dalam berbagai hal, sehingga negara semakin kuat. Salah satunya dalam
bidang ekonomi, yang akibat sering terjadinya perubahan kabinet berdampak
negatif terhadap kehidupan ekonomi Indonesia.
1. Upaya
A.
Gunting Syarifudin
Gunting Syarifudin adalah
kebijakan pemotongan nilai uang atau senering yang diambil Menteri Keuangan
Syafruddin Prawiranegara. Pada 20 Maret 1950, semua uang yang bernilai Rp.2,50
keatas dipotong nilainya hingga setengahnya. Hal ini bertujuan guna
menanggulangi deficit anggaran sebesar Rp.5,1 miliar dan bisa mengurangi jumlah
uang yang beredar.
B.
Program Benteng
Program Benteng adalah
sistem ekonomi yang bertujuan mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi
struktur ekonomi nasional, dengan menumbuhkan pengusaha Indonesia lewat kredit.
Sayangnya, program ini gagal karena pengusaha tak mampu bersaing dan malah
berdampak negative terhadap deficit anggaran yang membengkak menjadi 3 miliar
pada tahun 1952.
C.
Nasionalisasi De Javasche Bank
Pada tahun 1951,
pemerintah menasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia. Hal ini
dilakukan untuk menaikan pendapatan, menurunkan biaya ekspor, dan menghemat
secara drastis. Dengan nasionalisasi bank yang semula milik Belanda ini maka
pemerintah lebih leluasa dalam menjalankan kebijakan ekonomi dan moneter.
D.
Kebijakan Ekonomi Ali-Baba
Sistem ekonomi Ali Baba
ini melibatkan pengusaha pribumi (Ali) dan pengusaha keturunan Tionghoa (Baba).
Lewat program ini, pengusaha keturuanan Tionghoa diwajibkan melatih tenaga
pribumi, dan imbalannya mereka akan mendapat bantuan kredit dan lisensi dari
pemerintah.
2. Politik
Pemilu dilaksanakan untuk
memilih DPR
Pergantian Kabinet :
1. Kabinet Natsir (6 September 1950-21 Maret 1951),
2. Kabinet Sukiman-Suwirjo (26 April 1951-3 April 1952),
3. Kabinet Wilopo (3 April 1952-3 Juni 1953),
4. Kabinet Ali Sastroamidjojo (31 Juli 1953-12 Agustus 1955),
5. Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955-3 Maret 1956),
6. Kabinet Ali Sastroamidjojo II (20 Maret 1956-4 Maret 1957),
7. Kabinet Djuanda (9 April 1957-5 Juli 1959)
Demokrasi liberal berakhir
di Indonesia dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dekrit yang
salah satu isinya menyatakan kembali kepada UUD 1945 itu, otomatis menyatakan
bahwa demokrasi liberal berakhir
