7. Materi perjuangan daerah melawan
penjajah
Sifatnya :
1. Sporadis
2. mudah diadu domba
3. bergantung pada pemimpin masing masing daerah
4. mementingkan daerah masing masing
·
Perang Padri
Perang Padri diawali dengan konflik antara Kaum Padri dengan Kaum
Adat terkait pemurnian agama Islam di Sumatera Barat. Kaum Adat masih sering
melakukan kebiasaan yang bertentangan dengan Islam, seperti berjudi dan
mabuk-mabukan. Kaum Padri yang terdiri dari para ulama menasihati Kaum Adat
untuk menghentikan kebiasaan tersebut, Kaum Adat menolaknya, sehingga terjadi
perang yang berlangsung tahun 1803 – 1821. Perang diakhiri dengan kekalahan
Kaum Adat
·
Perang Maluku
Pada 1817, Belanda juga berusaha menguasai Maluku dengan monopoli
perdagangan. Rakyat Maluku yang dipimpin Thomas Matulessy (Pattimura)
menolaknya dan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Pertempuran sengit
terjadi di benteng Duurstede, Saparua. Belanda mengerahkan pasukan secara
besar-besaran, rakyat Maluku terdesak. Perlawanan rakyat Maluku melemah akibat
tertangkapnya Pattimura dan Martha Christina Tiahahu.
·
Perang Diponegoro
Perang Diponegoro adalah perang terbesar yang dialami Belanda.
Perlawanan ini dipimpin Pangeran Diponegoro yang didukung pihak istana, kaum
ulama, dan rakyat Yogyakarta. Perang ini terjadi karena Belanda memasang
patok-patok jalan yang melalui makam leluhur Pangeran Diponegoro. Perang ini
terjadi tahun 1825 – 1830. Pada tahun 1827, Belanda memakai siasat perang
bernama Benteng Stelsel, yaitu setiap daerah yang dikuasai didirikan benteng
untuk mengawasi daerah sekitarnya. Antara satu benteng dan benteng lainnya
dihubungkan pasukan gerak cepat, sehingga ruang gerak pasukan Diponegoro
dipersempi
·
Perang Jagaraga Bali
Perang ini terjadi akibat protes Belanda terhadap
Hak Tawan Karang, yaitu aturan yang memberik hak kepada kerajaan-kerajaan Bali
untuk merampas kapal asing beserta muatannya yang terdampar di Bali. Protes ini
tidak membuat Bali menghapuskan Hak Tawan Karang, sehingga perang puputan
(habis-habisan) antara kerajaan-kerajaan Bali yang dipimpin I Gusti Ketut
Jelantik dengan Belanda terjadi. Belanda berhasil menguasai Bali karena
kekuatan militer yang lebih unggul.
·
Perang Banjar
Perang ini dilatarbelakangi oleh Belanda yang ingin menguasai
kekayaan alam Banjar, serta keikut-campuran Belanda dalam urusan kesultanan.
Akibatnya, rakyat yang dipimpin Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari
melakukan perlawanan terhadap Belanda sekitar tahun 1859. Serangkaian
pertempuran terus terjadi hingga Belanda menambahkan kekuatan militernya.
Pasukan Pangeran Hidayatullah kalah, karena pasukan Belanda lebih unggul dari
segi jumlah pasukan, keterampilan perang pasukannya, dan peralatan perangnya.
Perlawanan rakyat Banjar mulai melemah ketika Pangeran Hidayatullah tertangkap
dan dibuang ke Pulau Jawa, sementara itu Pangeran Antasari masih melakukan
perlawanan secara gerilya hingga ia wafat.
·
Perang Aceh
Perang Aceh dilatarbelakangi Traktat Sumatra (1871) yang
menyebutkan bahwa Belanda bebas meluaskan wilayah di Sumatera termasuk Aceh.
Hal ini ditentang Teuku Cik Ditiro, Cut Mutia, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dan
Panglima Polim. Belanda mendapatkan perlawanan sengit dari rakyat Aceh. Rakyat
Aceh berperang dengan jihad, sehingga semangatnya untuk melawan Belanda sangat
kuat.
·
Perang Batak
Perlawanan rakyat Batak dipimpin Sisingamangaraja XII. Latar
belakang perlawanan ini adalah bangsa Belanda berusaha menguasai seluruh tanah
Batak dan disertai dengan penyebaran agama Kristen. Sisingamangaraja XII masih
melawan Belanda sampai akhir abad ke-19. Namun, gerak pasukan Sisingamangaraja
XII semakin menyempit. Pada akhirnya, Sisingamangaraja XII wafat ditembak
serdadu Marsose, dan Belanda menguasai tanah Batak.
